Mendidik Anak Menjadi Anak Yang Mandiri

Sering kita mendengar keluhan orang tua betapa kewalahannya mereka saat anak mereka tidak mau ditinggalkan di dalam kelas sendiri sesaat mereka mulai masuk sekolah. Betapa repotnya orang tua ketika anaknya selalu minta ’dikelonin’ saat akan tidur padahal usianya sudah 7 tahun, bahkan ingin selalu tidur bersama orang tuanya atau orang tua yang selalu harus menyuapi anaknya setiap kali mereka mau makan, memandikannya, ’mencebokinya’,  padahal usianya sudah besar. Berbagai bentuk ketidakmandirian anak ini kadangkala ditanggapi orang tua dengan perasaan yang jengkel atau bahkan sebaliknya melayani semua kebutuhannya.
Perilaku anak yang ditunjukkan merupakan hasil pembinaan, bimbingan dan bentukan pendidikan serta pola asuh yang dikembangkan orang tua sebab pada dasarnya semua anak di dunia ini sama, memiliki sifat yang sama yakni dalam kondisi fitrah. Lingkunganlah yang membentuk mereka menjadi merah, kuning, hitam atau hijau. Penciptaan lingkungan yang kondusif terhadap pembentukan kepribadian anak ini tidak akan lepas dari orang tua sebagai pemeran utama. Anak akan menjadi tidak mandiri, penakut, pencemas, manja, pemberani, pantang menyerah semuanya dibentuk oleh lingkungan yang diciptakan oleh orang tuanya.

Sebenarnya menjadi mandiri merupakan naluri setiap orang sejak mereka masih bayi. Setiap bayi tentunya mereka mulai belajar menggerakkan anggota tubuhnya merangkak, duduk, berjalan, menggapai suatu barang, jika diperhatikan usaha mereka tidak pernah pantang menyerah. Bayi akan terus dan terus melakukan apa yang ingin dilakukannya. Saat jatuh maka ia akan terus berusaha untuk bangun walaupun jatuh kembali begitupun ketika mereka ingin meraih sesuatu apapun akan ia lakukan untuk menggapai dan meraihnya. Naluri untuk menjadi mandiri ini menjadi terhambat oleh lingkungan yang tidak mendukung proses kemandirian anak dan orang tua telah salah dalam memperlakukan anak mereka, misalnya orang tua yang serba melarang, tidak membiarkan bayi mereka berekplorasi, orang tua yang terlalu khawatir akan keselamatan anaknya sehingga selalu berkata ”jangan”. Akibatnya anak menjadi sangat pencemas dan penakut. Goleman mengutip penelitian Jerome Kagan tentang sifat-sifat  penakut bawaan, disebabkan para ibu yang melindungi anak-anak mereka dari pengalaman buruk menghasilkan anak-anak yang terus-menerus dihantui ketakutan sampai mereka dewasa. Ibu-ibu yang secara konsisten mendorong mereka menghadapi dunia, menghasilkan anak-anak yang tidak penakut kelak. Penelitian ini membantah anggapan bahwa “ anak-anak harus dilindungi dari kesulitan hidup”

Perilaku Tidak Mandiri

Kemandirian dapat diartikan sebagai keterampilan untuk membantu diri sendiri, baik kemandirian secara fisik maupun kemandirian secara psikologis. Kemadirian secara fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri, sedangkan kemandirian secara psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Kemandirian secara fisik sangat berpengaruh terhadap kemandirian secara psikologis. Bentuk-bentuk perilaku tidak mandiri secara fisik ditunjukan dengan tidak terpenuhinya tugas perkembangan anak pada setiap tahapannya tugas perkembangan menurut Hurlock:

Bentuk perilaku tidak mandiri secara psikologis, yaitu:
–    sulit beradaptasi dengan lingkungannya
–    sangat tergantung pada orang lain
–    tidak percaya diri
–    menjadi pengekor
–    tidak bisa membuat keputusan sendiri

Pola Asuh Yang Salah

1.  Pengasuhan yang over protektif

Terlalu memberi perlindungan yang berlebihan dengan alasan sayang akan membatasi anak untuk mengembangkan dirinya; memasung kreatifitasnya sehingga anak tumbuh menjadi anak yang serba ragu, takut dan cemas. Ia tidak akan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak sesuatu. Ujung-ujungnya orang tua juga yanga kan repot dibuatnya sebab ia menjadi anak yang sangat tergantung pada orang tuanya.

2.  Memanjakan anak

Tidak memanjakan anak merupakan sebuah perjuangan yang berat bagi beberapa orang tua yang masa lalunya menyedihkan misalnya memiliki latar belakang orang tua yang penuh pertengkaran, konflik dan stress, sehingga saat menghadapi masa-masa sulit orang tua seperti ini akan memastikan kalau anak-anak mereka benar-benar tidak mengalaminya atau juga orang tua telah salah dengan memberi kasih sayang yang berlebihan sehingga orang tua melayani semua kebutuhan anak tanpa memberi kesempatan pada anak untuk melakukannya sendiri Ini akan menjadi hambatan bagi anak untuk tumbuh dewasa dan mandiri.

3.    Memaksakan anak mewujudkan harapan orang tua.

Secara tidak disadari kadang-kadang kita memaksakan keinginan kita pada anak. Kita mengganggap sesuatu yang kita pandang baik untuk anak padahal anak sendiri tidak menyukainya. Seringkali pula kita selalu menganggap bahwa keinginan anak-anak kita tidak baik untuk dirinya sendiri sehingga tanpa memperhatikan anak senang atau tidak kita memaksa anak untuk melakukan sesuatu yang kita anggap baik.

4.    Orang tua tidak demokrasi (otokrasi)

Anak bukanlah obyek, sehingga kita tidak boleh semena-mena memperlakukannya, ia adalah manusia seperti kita hanya dalam bentuk yang lebih kecil dan muda, ia memiliki keinginan, harapan dan perasaan. Ia butuh untuk dihargai, didengarkan pendapatnya dan diakui keberadaannya. Oleh katrena itu seharusnya setiap kali kita akan melakukan sesuatu untuk anak kita tanyakanlah apa pendapatnya, apa keinginannya, apakah ia senang atau tidak. Memperlakukan anak seperti itu akan membuat mereka memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi sehingga akan menjadikannya ia anak yang mandiri.

Mendidik Kemandirian

Mendidik kemandirian anak dapat dilakukan dengan cara :

  1. Memberi anak kepercayaan dan tanggung jawab. Berilah anak kepercayaan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu, misalnya biarkanlah anak kita menentukan baju mana yang ingin dipakainya, jika warna tidak serasi berilah ia penjelasan mengenai warna-warna apa saja yang cocok dan serasi, lalu jenis pakaian apa saja yang bisa dikenakan untuk momen-momen tertentu.
  2. Mendorong, membimbing dan memberi dukungan. memberikan anak dorongan untuk bisa berprestasi, beri dukungan saat ia menyatakan ingin melakukan sesuatu, bimbinglah ia untuk bisa berhasil dalam melakukan sesuatu. Contoh untuk anak usia 1,5 tahun, saat ia mulai senang memanjat tangga jangan pernah sekali-kali melarangnya, tetapi bimbinglah ia agar ia bisa memanjat tangga dengan sukses, ajarkan juga cara menghindari agar ia tidak jatuh dan terpeleset.
  3. Memberi kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Kadang-kadang kita lupa bahwa anak kita memiliki hak dan juga kemampuan untuk menyatakan pendapatnya. Libatkanlah anak kita dalam setiap pengambilan keputusan dalam keluarga, dengan demikian ia akan merasa sangat dihargai, sekalipun pendapat yang disampaikannya ’asal bunyi’.
  4. Memberikan ‘reward’ baik berupa pujian atau hadiah setiap kali mereka melakukan hal yang baik. Memberikan reward pada setiap perilaku baik anak akan memberikan energi yang luar biasa bagi anak, ia akan mengulanginya lagi perbuatan tersebut dan akan terekam dalam benaknya bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang baik yang harus dilakukan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s