Penemuan Candi Di Dasar Laut Pemuteran Bali

Candi di dasar laut perairan Jawa dan Bali yang beredar di Twitter sudah diketahui bukan peninggalan Atlantis. Arkeolog juga menyangsikan akan ada lagi candi di dasar laut.

Andri Slamet Subandrio, dosen geologi bebatuan ITB menilai gempa dan tsunami bisa saja merontokkan suatu bukit atau bangunan. Namun, kejadian ini harus disertai informasi lokasi awal candi.

Ia mengatakan jika lokasi candi ada di tepi pantai atau laut, bisa jadi karena longsor, gempa atau tsunami sehingga terbawa arus ke dasar laut. Meskipun begitu, Andri tidak ingin terlalu berangan-angan atas kemungkinan itu.

“Gempa dan tsunami Aceh di 2007 telah mengubah keadaan Pulau Simelu dan Nias. Ada dataran yang tenggelam ataupun terangkat. Tapi, untuk di perairan laut Jawa dan Bali, saya rasa harus diteliti lebih lanjut,” ujarnya kemarin di Jakarta.

Foto candi itu awalnya beredar luas di situs microblogging Twitter. Namun justru media Inggris The Telegraph yang pertama melaporkan bahwa itu hanyalah taman bawah laut yang dibangun penyelam Inggris untuk menghibur para kliennya.

Paul Turley (43) yang menenggelamkan patung itu pada 2005 di Permuteran sebelah barat laut Bali. Bersama Chris Brown koleganya dari Australia dia membangun terumbu karang untuk konservasi laut.

“Ketika mendengar cerita penemuan candi bawah laut itu saya tertawa terpingkal-pingkal,” kata Turley pada The Telegraph. Candi buatan yang diberi nama Taman Pura itu dibangun mulai 2005 pada kedalaman 15-29 meter.

Kawasan tersebut merupakan bagian dari proyek konservasi terumbu karang Reef Gardiners yang mendapat dukungan dana dari Australian Agency for International Development (AusAid). Di tempat itu terdapat 10 patung dan sebuah struktur candi yang kini sudah diselimuti karang.

Arkeolog senior Indonesia, Profesor Harry Truman juga menegaskan keberadaan candi di dasar laut sangat tidak mungkin. “Tidak akan ada candi di dasar laut. Kemungkinan ini tidak ada karena permukaan laut tidak pernah mengalami perubahan sejak dulu,” katanya

Terlepas dari kemungkinan gempa dan tsunami, ahli arkeologi ini menilai bahwa masyarakat lampau tidak mungkin membangun candi pada kawasan tersebut.

“Permukaan laut saat ini tidak pernah kering setidaknya 4 ribu tahun lalu. Sementara itu, candi sudah ada seribu tahun. Tidak mungkin mereka (masyarakat kuno) membangun candi di perairan,” tegasnya.

Menurut Harry, perlu dideskripsikan secara jelas lokasi penemuan benda yang dianggap candi. Kalau ada tsunami atau gempa, maka harus tahu seberapa jauh dari garis pantai. “Apakah benda ini berada di dekat atau tidak dari garis pantai. Kalau kurang dari 100 meter, saya rasa tidak mungkin candi,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s