Ibu Stres Cenderung Lahirkan Bayi Perempuan

Berharap punya anak laki-laki? Cobalah untuk tidak stres saat Anda sedang menjalani program hamil. Sebab penelitian terbaru dari Oxford University menunjukkan, perempuan yang stres ketika sedang memprogram kehamilan cenderung akan mempunyai bayi perempuan.

Mereka yang merasa tertekan beberapa minggu atau bulan sebelum hamil, memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapat anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Penemuan ini memberi makna bahwa perubahan ekonomi bisa mengakibatkan lebih banyak perempuan melahirkan bayi perempuan. Sebaliknya, dalam pergolakan semacam itu jumlah bayi laki-laki cenderung menurun.

Para peneliti Inggris dan Amerika yang tergabung dalam studi ini mengungkapkan, dalam bulan-bulan setelah terjadinya serangan teroris 9/11, jumlah bayi laki-laki yang lahir di New York menurun. Sementara kekacauan ekonomi yang diikuti dengan runtuhnya Tembok Berlin juga menunjukkan jumlah bayi laki-laki yang jauh lebih sedikit di Jerman Timur pada tahun 1991.

Penelitian dari Oxford ini adalah yang pertama mengaitkan fenomena stres dan ketegangan hidup sehari-hari dengan meningkatnya kadar hormon stres. Sebanyak 338 perempuan di sekitar Inggris yang sedang mencoba hamil membuat jurnal mengenai kehidupan mereka dan mengisi kuesioner mengenai kadar stres yang mereka rasakan. Kadar hormon stres, termasuk kortisol, diukur dalam beberapa bulan sebelum kehamilan. Kadar kortisol ini biasanya meningkat ketika orang mengalami stres jangka panjang seperti tekanan di tempat kerja dan hubungan cinta yang kurang baik. Dari situ terlihat bahwa dari semua bayi yang lahir, bayi laki-laki jumlahnya 58, sedangkan bayi perempuan 72. Di Inggris, normalnya dari setiap 100 bayi perempuan, lahir 105 bayi laki-laki.

Sayangnya, tidak diketahui mengapa tingkat kortisol yang tinggi mengurangi peluang mendapatkan bayi laki-laki. Jenis kelamin bayi ditentukan oleh kromosom yang ada pada sperma laki-laki, dan ditentukan saat terjadinya pembuahan. Muncul dugaan, kadar kortisol yang tinggi membuat embrio laki-laki sulit tertanam di dalam rahim. Selain itu, janin laki-laki juga lebih rapuh dan cenderung gugur ketika kadar kortisol naik.

Dr Cecilia Pyper, yang memimpin studi ini, mengatakan bahwa timnya hanya memelajari sejumlah kecil perempuan. Karena itu, butuh penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi penemuan ini. Pakar kesuburan dari Sheffield University, Dr Allan Pacey, misalnya, kurang sepakat dengan hasil penelitian ini. Faktor nutrisi atau biologis bisa saja memegang peran dalam menentukan lahirnya bayi laki-laki dan perempuan.

Namun, satu hal pasti yang bisa dijadikan pelajaran di sini, adalah pentingnya relaksasi saat Anda sedang mengupayakan kehamilan. Dalam penelitian sebelumnya, Dr Pyper juga pernah mengungkapkan bahwa stres akan memperpanjang waktu terjadinya pembuahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s